Mimpi yang Aneh

 

Semalam aku bermimpi, mimpi yang aneh sekali...

 

Temanku, menarikku dengan agak memaksa. Langkah kakinya semangat dan percaya diri, ia berkata seseorang sedang menunggu untuk menemuiku, sehingga nya kami perlu bergegas. Dari jalanan panjang yang entah mengapa terasa terlalu singkat untuk dilewati, kami sampai di sebuah tanah lapang, di pinggir danau. Dari kejauhan, tampak seseorang berdiri di bawah pohon, cantik dengan rambut panjangnya, jelas dia adalah seorang wanita yang kukenali di dunia nyata, wajah yang sangat tidak asing, dia adalah orang yang kukagumi sejak lama.

 

“Apa kabar?” tanya nya penuh antusias.

 

Mulutku bungkam, tenggorokanku sakit. Seingatku, tidak pernah sepotong kalimat pun kami pernah berbicara. Wajar saja, aku selama ini hanya mengaguminya dari jauh, melintasi jalan yang sering dilaluinya, sambil berharap bisa bertatapan dengannya secara langsung, di dalam ketidaksenghajaan. Walaupun kupikir, aku butuh 760 kali pertimbangan tentang kata apa yang harus pertama keluar, jika harus menyapanya.

 

Hari ini, dia tersenyum dihadapanku, kupikir ini bukan sesuatu yang bisa disebut ketidaksenghajaan. Mengapa dia ingin menemuiku? Apakah ada sesuatu yang dia ingin aku tahu?.

 

Kemudian tiba-tiba...

 

Seseorang laki-laki tampan datang, membawa bunga ditangannya. Wajahnya asing dan tak kukenali. Dia berjalan pelan, pelan sekali. Siapa dia? . Sebelum sempat aku berpikir, sesaat ada yang membuatku hancur sehancur-hancurnya. Dia yang kukagumi memeluknya dengan erat, penuh hangat. Aku tidak mungkin salah, namun berharap seseorang menyangkalku. A-apakah dia pasangannya selama ini? T-tapi sejak kapan?.

 

Sekejap wajahku memerah, mataku berair, kakiku lemas. Kemarahan dengan cepat menyebar keseluruh tubuh, dengan perasaan yang tak lagi dapat terdefinisikan. Berdiri dengan tampak bodoh, nafasku cepat, dadaku terasa sakit, sungguh tak tertahankan.

 

Sebelum lebih jauh lagi, kuputuskan untuk berlari, berlari dengan kencang, kemanapun asal jauh dari mereka. Sayup-sayup terdengar tawa, mereka kini sedang menertawakanku dengan cemooh penuh hinaan, tampak puas. Aku tak lagi berpikir, mataku perlahan memburam, kemudian aku terjatuh...

 

Aku terbangun dengan kasar, bersamaan dengan perasaan yang sama seperti jatuh dari tempat yang tinggi, menyela mataku yang basah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Figuran